Laman

Sabtu, 12 Oktober 2013

Ikhtiar Kata

Oleh: Mukhlas Nugraha















Membuka tabir makna
Makna di dalam jiwa
Untuk sebuah kata menjadi rangkaian kata
Kata dalam lingkaran makna
------------
Dalam pandangan batin mata
Ku temukan titik-titik kata itu di dalam jiwa
Akal mencoba meraihnya
Untuk sebuah makna dalam susunan kata

Aku masuk dan menyelamkan diri dalam lautan kata
Di sana ku terkejut melihat ribuan kata terserak di mana-mana
Kata tak bermakna pun ada di dalamnya
Aku bingung manakah kata bermakna yang aku cari itu?
Dia ada dibalik bongkahan batu karang yang keras dan terselip diantara kata yang tak aku suka.
Aku kesulitan...
Mata batinku tak setajam di saat aku masih di luar jiwa
Akalku tak sedalam, sedalamnya lautan kata
Mungkinkah matahari telah mengurangi sinarnya, sehingga lautan menjadi gelap gulita?
--------
Akhirnya aku berusaha menenangkan diri
Mengenali diri, ada apa dengan diri ini
Adakah diri ini merusak diri?
Sehingga makna itu takut dengan diriku?
Aku rasakan itu...
Kejolakan diri antara nafsu natiqah dan hayawānī
Allāhu yā Rabbī...
----------
Aku pulang dengan sederet kata yang ada
Tak hiraukan kata bermakna terbubuh oleh kata tak bermakna
Aku rangkul kata-kata itu dengan erat-erat
Untuk si rongga di muka karena tak sabar untuk berkata
Saat ini, jangan kau tanyakan kenapa, wahai sahabatku rongga di muka !
Sabar...
Janjiku..
Aku pasti dapat menguasai lautan kata itu
Menyelubungi dan menyelinap setiap kata perkata
Untuk meraih makna dalam susunan kata
Susunan kata dalam lingkaran bola makna..


Kuala Lumpur,
Jum’at, 11 Oktober 2013; 04:07 pm

Sabtu, 31 Agustus 2013

Mencari Guru: Tradisi Ilmu Islām yang Hilang


Oleh: Mukhlas Nugraha

Ide tulisan ini bermula ketika salah seorang temanku bertanya mengenai tujuanku kuliah di sini (CASIS). Saat itu jawabanku adalah mencari ilmu, mendapatkan pengalaman dari negeri orang, dan di samping beasiswa yang telah aku dapatkan. Temanku merespon sangat baik atas jawabanku. Memang benar, itu baik dan gak ada salahnya. Setelah merespon jawabanku beliau pun memberi nasehat kepadaku bahwa ada satu tujuan yang telah lupa olehku, yaitu mencari guru. Penjelasan beliau yang cukup panjang tentang pentingnya mencari guru membuatku berpikir jauh dan menganggukkan kepala menandakan memahaminya. Aku tidak terpikir sampai ke sana. Kemudian, nasehat-nasehat beliau itu aku rangkumkan dan akhirnya aku berniat untuk membuat sebuah tulisan. Tulisan yang aku harap mengandung manfaat bagi para pembaca dan penulis pribadi.
--------------------------
Sudah sewajarnya,  apabila seseorang menuntut ilmu keluar kampung atau kuliah ke negeri orang untuk menimba ilmu tujuan utamanya, juga mendapatkan pengalaman yang lebih banyak daripada sebelumnya. Bermacam-macam tujuan menuntut ilmu dengan tujuan yang mulia. Baik itu selepas dari Sekolah Menengah/Aliyah melanjutkan kuliah di Institut atau Universitas, maupun selepas keserjanaannya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Master atau Doctor.
Tetapi seperti yang aku tulis sebagai introduction di atas, ada satu hal yang kita tidak menyadarinya, lupa atau belum mengetahui, bahwa mencari guru merupakan salah satu adab dalam mencari ilmu. Kenapa? Itulah pertanyaan yang akan dibawa dalam tulisan ini. Zaman sekarang yang dipengaruhi kemodenan yang kemilau, boleh jadi menyebabkan kita lupa terhadap tradisi yang telah diwariskan oleh ulama kita dahulu. Tiada menoleh lagi apa yang diajarkan dan diwariskan oleh mereka untuk kita. Padahal banyak sekali mutiara-mutiara pelajaran dari mereka yang dapat diambil untuk zaman kita sekarang ini.
Mencari guru termasuk bagian kecil dari warisan mereka. Dalam kitab Adab ’Alim wa Muta’allim, Kyai Haji Hasyim Asy’ari menasehati bahwa etika murid terhadap guru salah satunya adalah memilah guru yang betul-betul mampu dan diakui kapasitas keilmuannya, (maksudnya seorang murid harus mencari dan memilih guru  yang betul-betul memilih kualifikasi sebagai seorang guru). Nasehat sang Kyai sangat bermanfaat bagi kita, kenapa? sebab yang memberi pengaruh besar untuk merubah kepribadian, intelektual,  ketajaman akal, dan pemikiran si murid adalah sang guru. Kita juga bisa melihat dalam beberapa kitab diantaranya kitab Syadzarāt al-Zahab fī Akhbāri man Zahab karya Imam Ibn al-Imad al-Hanbali; Al-Durar al-Kāminah fi aʻyan al-Mā’ah al-Thāminah karya Imam Ibn Hajar al-Asqalānī; Bughyat al-Wuʻāh oleh Imam Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī; Al-Dhayl ‘Alā Ṭabaqāt al-Ḥanābilah oleh Imam Ibn Rajab dan kitab-kitab lainnya yang menulis tentang riwayat kehidupan atau perjalanan hidup para ulama dalam menuntut ilmu, seterusnya juga tentang siapakah guru-gurunya, murid-muridnya, kedudukannya dan otoritas keilmuwan ulama berkenaan tersebut. Imam al-Khatīb al-Baghdādī contohnya, dalam Syadzarāt al-Zahab menukilkan bahwa beliau mempunyai banyak guru, dan gurunya yang terkenal adalah al-Qādhi Abū al-Thib al-Thibri, Abul Hasan al-Mahāmali, Abū ‘Umar bin Mahdi, dan Ibnu al-Ṣalat al-Ahwazi. Oleh karenanya peran guru-guru Imam al-Khatīb yang memiliki keilmuan yang tinggi telah boleh menjadikan diri Imam al-Khatīb memiliki ilmu yang luas.
Demikian pula, perjalanan mereka pergi nan jauh keluar negeri, demi mencari ilmu yang lebih daripada sebelumnya dan tak terlepas pula mencari guru yang akan mengajarkannya. Adalah Imam al-Syāfiʻī, seorang Imam yang tiada satupun tiada mengenalnya. Mazhab terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Beliau pergi keluar kampungnya untuk berguru dengan seorang ulama besar, Imam Mālik (pendiri mazhab Mālikī). Sebelum bertemu Imam Mālik terlebih dahulu Imam al-Syāfiʻī menghafal kitab al-Muwaṭṭa’ karya Imam Malik dalam usia 10 tahun, hanya jangka waktu 10 hari saja imam al-Syāfiʻī telah menghapal keseluruhannya. Begitu pula apabila kita membaca riwayat hidup ulama pendiri empat mazhab, Imam Hanafī, Imam Mālik, Imam al-Syāfiʻī dan Imam al-Hanbalī ternyata ada saling kesinambungan ilmu (sanad) di antara mereka meskipun ada beberapa perbedaan Ijtihad. Imam Hanafi adalah guru daripada Imam Mālik, Imam Mālik adalah guru daripada Imam al-Syāfiʻī dan Imam al-Syāfiʻī adalah guru daripada Imam al-Hanbali.
Seterusnya adakah kalian mengenal imam al-Dzahabī? Seorang ulama pakar dalam bidang Hadīts, sejarah Islām, Syaikh Jarh wa Ta’dil dan ahli dalam ilmu Kalam. Tahukah berapa jumlah guru beliau? Beliau memiliki guru mencapai 1043 sehingga beliau menulis dalam satu kitab khusus untuk nama guru-gurunya tersebut dalam kitab “Mu’jam Syuyūkh al-Dzahabī”. Begitulah rasa hormatnya al-Dzahabī kepada sang gurunya.

 

Sekarang, apakah mencari guru masih nampak di zaman kita? Ada  tetapi dengan pandangan samar. Ada hal yang menyebabkan seseorang itu menganggap mencari guru itu tidak begitu penting bagi dirinya. Kemungkinan besar sang murid telah menaruh kepercayaan baik kepada sekolah/universitas dengan adanya guru/dosen di sana. Ini juga baik, tidak ada salahnya, karena tidak ada larangan bagi kita berguru kepada siapa saja. Akan tetapi alangkah baiknya jika sang murid tidak hanya melihat sekolah/universitasnya saja tetapi juga guru pengajar di dalamnya. Guru yang akan membawa perubahan besar bagi dirinya.
Seumpama seorang murid ingin menjadi seorang ahli sains, maka ia harus berguru dengan ahli sains pula. Tentunya guru yang ahli dalam bidang sains itu banyak jumlahnya. Ia mempunyai leluasa untuk berguru kepada siapa saja. Akan tetapi tentu ia akan memilih guru dari sekian guru ahli sains tersebut sebagai pengajarnya nanti. Bagaimana ia memilih dan mencarinya? Bisa dengan bertanya kepada guru di masa sekolah  dulu, orang tua, teman sejawat, seseorang yang mempunyai pengalaman yang lebih dari dia, atau mencarinya dengan membaca buku sains yang otoritatif menurutnya dan melihat siapakah penulis buku itu, di sanalah ia bisa menilai kepada siapa ia akan berguru.
Dalam tulisan ini tidaklah menjadikan mencari sekolah/universitas itu tidak penting. Adalah hak murid belajar di mana saja sesuai dengan kehendak dan kesesuaiannya. Tetapi dalam tulisan ini menekankan mencari guru jangan dikesampingkan dalam tujuan menuntut ilmu. Harapannya adalah sang murid mendapatkan perubahan dalam dirinya, mempunyai kepuasan dalam belajar, bangga terhadap gurunya, dan mendapatkan sanad ilmu daripada gurunya, serta tak terlepas pula bangga terhadap sekolah/universitas sebagai tempat ia belajar. Dengan begitu perkataan “aku adalah murid dari guru ini dan ini” tidak terdengar asing di zaman ini.


KL. 01 September 2012; 00:28 pm

Minggu, 14 Juli 2013

Kesadaran

Oleh: Mukhlas Nugraha
 
Kegiatan belajar tidak pernah lepas dari tugas-tugas yang diberikan oleh guru, baik itu di sekolah maupun di bangku perkuliahan. Seperti review buku, artikel, makalah atau bentuk tugas lainnya. Hari ke hari otak kita selalu diajaknya berbicara, di saat berjalan, duduk, berdiri, bahkan di atas kendaraan sekalipun. Akibatnya tidur malampun telat. Barangkali ada sebagian kita terbesit hatinya perasaan mengeluh untuk mengerjakan tugas. Mengeluh adalah perasaan yang semestinya tidak muncul dalam hati si murid, tapi siapa sangka perasaan ini sering muncul di hati para pelajar/ murid. Kemungkinan ini bisa terjadi ada beberapa sebab; terlalu banyak tugas sehingga bingung mana yang didahulukan untuk dikerjakan, tugas itu susah untuk dikerjakan, atau malas bisa juga jadi faktor penyebabnya.
Tapi tahukah kita bahwa tugas yang diberikan oleh guru/dosen itu akan membawa perubahan pada diri kita. pernahkah kita mengukur perubahan itu pada orang lain atau diri kita sendiri? Ada kata Bijaksana yang perlu diingat: “ingin menjadi orang besar, maka harus melewati rintangan yang besar pula”. Artinya, jika kita ingin menjadi diri yang “besar”, kita harus sanggup menghadapi dan menyelesaikan tugas-tugas berat yang diberikan oleh guru/dosen kepada kita. Meskipun terkadang kita hampir atau tidak sanggup untuk mengerjakannya. Tapi, dengan terbiasa melakukan rintangan-rintangan yang besar dalam belajar itu, Walhasil, manfaatnya adalah kita tidak begitu susah dan mengetahui metode untuk menghadapi tantangan besar kedepannya”.
            Sekarang, apabila kita melihat diri kita dengan para ulama Islām, kita bukanlah bandingannya. Tugas yang diberikan oleh guru/dosen yang saat ini kita anggap berat, itu belumlah seberapa dengan tugas yang diberikan oleh mereka (para ulama) pada masanya. Mereka, para ulama sudah terdidik dan terbiasa diberikan oleh gurunya tugas-tugas yang berat (menjawab persoalan ummah), hal ini menjadikan mereka diri yang besar. Di samping dari tujuan menuntut ilmu, kaedah pembelajaran, atau kurikulum yang diterapkan yang menjadi faktor pula dalam mendidik mereka pada masanya.
Tapi dalam tulisan ini, saya melihat dari kacamata kegigihan dan ketidakmengeluhan mereka dalam belajar, hal ini bisa kita dapati karya-karyanya yang telah mereka ciptakan dengan puluhan bahkan ratusan kitab serta berjilid-jilid. Menulis hingga mencapai puluhan kitab itu bukanlah hal yang mudah, perlu kerja keras untuk mengerjakannya. Sedangkan kita apabila diperintahkan oleh dosen/guru kita untuk membuat artikel atau makalah dalam bentuk ilmiah hanya 10 lembar saja, susahnya gak “ketulung”. Ini menjadi PR bagi kita, ada apa dengan belajar kita dan sampai dimanakah kesungguhan kita dalam belajar. Kesulitan yang dihadapi dalam belajar adalah hal yang wajar. Setiap pelajar tentu akan mengalaminya. Tetapi dengan melewati kesulitan itu Insyā Allāh dengan terbiasa akan bisa melewatinya. Dan kesulitan ini juga harus disambut  dengan rasa senang, karena hal itu merupakan tantangan bagi kita untuk mengais masa yang cemerlang. Tantangan adalah pengalaman yang tak ternilai harganya untuk diri kita dan generasi berikutnya yang akan kita berikan.

Kuala Lumpur, sabtu, 22-06-2013

Kamis, 11 April 2013

Alun-alun Goresan Tinta

Oleh: Mukhlas Nugraha









Terurai hati berkata
Indah dalam kata-kata
Akal selalu merayu-mengajak berbicara
------
Kata itu tersekat
Di alun-alun goresan tinta
Diam, tak bersuara
Qolam menanti titah sang tuannya
Menunggu tibanya makna ke dalam jiwa


KL. 11-04-2013; 02:35 am

Minggu, 07 April 2013

Merajut Ikhlas tuk Ilmu Sang Ilāhi


Oleh: Mukhlas Nugraha

Melangkah kaki meraih impian
Impian bukan untuk disia-siakan

Ada yang bertanya untuk apa menuntut ilmu?
Menuntut ilmu untuk kebaikan
Tiada makna ilmu bila tujuan ilmu dikelirukan
Ilmu dicari bukan tujuan duniawi
Tapi tuk mengenal sang Ilahi

Hilang.. Telah hilang maknawi ilmu
 Antara ilmu dan keterampilan
Apatah lagi pekerjaan
Kekayaan, kekuasaan, kemasyhuran
Menjadi dambaan.
-------
Sekarang...
Siapakah kini sang Ilmuwan.
kini mudah untuk ditampilkan
Mudah untuk dipamerkan
Suka mempolulerkan
Mengakukan aku sang ilmuwan
Itukah tujuan ilmu yang kau inginkan?

Wasiat imam dahulu tiada dihiraukan
Menafsirkan diri dengan kenafsuan
Sehingga tiada diri mengenali diri
Karena dikawali nafsu hayawani 
-------
Singkirkan nafsu duniawi
Ikhlaskan diri ini untuk ilāhi
Terpakan tujuan yang berakibat menyesali diri
Akherat  menanti tiada disesali
Menuntut  ilmu..
Kita kenali diri untuk mengenal sang Ilāhi.

KL. 07/04/2013; 01:24 am.

Jumat, 22 Februari 2013

Rintangan dalam Menuntut Ilmu


Oleh: Mukhlas Nugraha

Masih ingat film Habibie dan Ainun, ketika beliau (pak Habibie) ingin pulang ke rumah tetapi uangnya hanya tinggal beberapa sen euro lagi, sehingga kendaraan yang “ditumpanginya” tidak sampai ke rumahnya. Terpaksa ia berjalan berkilo-kilo meter di tengah malam hari dengan disertai turunnya salju putih sehingga ia menggigil kedinginan, lebih lagi sepatunya yang sobek di bawah jempol telapak kakinya, mengakibatkan kakinya lecet dan berdarah.

Dari kisahnya itu mengingatkan saya kembali perbincangan dan nasehat teman saya (kang Arif Munandar) kepada saya kira-kira dua bulan yang lalu 29 Desember 2012. Beliau berkata: “kesengsaraan dalam menuntut ilmu itu adalah hal yang biasa. Terkendala difinansial sehingga ia bekerja sambil menuntut ilmu, pagi belajar malam bekerja, bekerja untuk keperluan kuliah dan kehidupannya sehari-hari, hal itu baik tetapi belumlah “wah” baginya. Sebab banyak orang yang melakukan itu. Dan tak terhitung jumlahnya. TETAPI, orang yang bisa MELEWATI kesusahan dan rintangan itu, selanjutnya ia BERHASIL dalam studinya, maka itulah yang dikatakan “Luar Biasa”. Sebab kerja kerasnya dua kali lipat itu tidak sia-sia. Pertama, biaya kuliyah dan hidupnya sehari-hari bisa ia hadapi, dan kedua studinya berhasil . Dan ini jarang dimiliki setiap orang”.

Kisah pak Habibie bisa di jadikan Ibrah (pelajaran) bagi kita, bukan karena uang “receh” dan sepatunya yang “sobek” sebagai rintangannya, tetapi karena keberhasilan pak Habibie MELEWATI rintangan itu hingga akhirnya ia menciptakan karya yang luar biasa. Tak hanya kisah pak Habibie, ada banyak lagi kisah-kisah yang dapat menginspirasi kehidupan kita.